Nasib Penyintas Tragedi 65, Bom Bali, dan Tragedi Kanjuruhan Usai Pemotongan Anggaran LPSK – ‘Suntik Mati Saja, Biar Negara Juga Menanggung Dosanya’
kabardunia.id- Pemotongan anggaran Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) di Indonesia baru-baru ini mengundang kekhawatiran, terutama bagi mereka yang menjadi korban tragedi besar seperti Tragedi 65, Bom Bali, dan Tragedi Kanjuruhan. Banyak penyintas yang bergantung pada bantuan dari LPSK untuk mendapatkan perlindungan hukum dan pemulihan psikologis, kini terancam tidak mendapatkan dukungan yang seharusnya mereka terima. Beberapa bahkan mengungkapkan kekecewaannya dengan perasaan putus asa, menyebut bahwa jika mereka harus menanggung penderitaan lebih lanjut, mungkin sudah saatnya untuk “suntik mati” agar negara juga turut menanggung dosa yang telah diperbuatnya.
1. Pemotongan Anggaran LPSK dan Dampaknya
LPSK, yang memiliki peran vital dalam memberikan perlindungan kepada saksi dan korban, kini terancam tidak dapat menjalankan fungsinya secara maksimal setelah anggarannya dipangkas. Pemotongan anggaran ini mempengaruhi kemampuan LPSK untuk memberikan pendampingan psikologis, bantuan hukum, dan perlindungan fisik kepada penyintas yang membutuhkan. Salah satu dampak langsungnya adalah penurunan kualitas hidup para penyintas tragedi besar yang telah lama menderita trauma.
2. Tragedi 65 dan Penderitaan Penyintasnya Penyintas tragedi
Tragedi 65 yang terjadi pada tahun 1965 masih meninggalkan bekas luka mendalam pada para penyintasnya. Banyak dari mereka yang sampai kini belum mendapatkan keadilan, baik dalam bentuk pengakuan resmi maupun kompensasi yang layak. Para penyintas ini terus berjuang untuk mendapatkan pengakuan negara atas penderitaan yang mereka alami, namun pemotongan anggaran LPSK membuat perjuangan mereka semakin berat. Mereka merasa tidak diperhatikan dan dibiarkan terabaikan oleh negara.

3. Bom Bali: Tragedi yang Tak Terlupakan Penyintas tragedi
Bom Bali yang meledak pada tahun 2002 merupakan salah satu serangan teroris paling mengerikan dalam sejarah Indonesia. Banyak korban dan penyintas yang masih hidup dengan dampak fisik dan psikologis yang menghantui mereka. Untuk banyak dari mereka, bantuan dari LPSK menjadi harapan terakhir untuk mendapatkan pemulihan. Namun, dengan anggaran yang semakin terbatas, nasib mereka semakin terabaikan. Hal ini membuat mereka merasa seperti tidak lagi dihargai sebagai korban yang seharusnya mendapatkan perlindungan.
4. Tragedi Kanjuruhan dan Ketidakpastian Perlindungan
Tragedi Kanjuruhan, yang terjadi pada tahun 2022, menjadi tragedi olahraga terbesar di Indonesia. Ratusan suporter sepak bola kehilangan nyawa dalam insiden yang sangat memprihatinkan ini. Penyintas dari tragedi ini juga membutuhkan bantuan dan perlindungan dari negara, namun pemotongan anggaran LPSK kini menghambat proses pemulihan mereka. Banyak penyintas yang merasa tidak ada keadilan yang diberikan kepada mereka, sementara pemerintah lebih fokus pada aspek lain daripada menangani kasus-kasus yang melibatkan korban.
5. ‘Suntik Mati Saja, Biar Negara Juga Menanggung Dosanya’ – Suara Frustrasi Penyintas
Keputusasaan semakin terasa dengan pernyataan keras dari salah seorang penyintas yang merasa tak lagi punya harapan. “Suntik mati saja, biar negara juga menanggung dosanya,” ucapnya dengan perasaan frustrasi. Pernyataan ini menggambarkan betapa beratnya kondisi emosional yang dirasakan oleh penyintas tragedi-tragedi tersebut. Mereka merasa tidak mendapatkan perhatian yang layak dan tidak ada jaminan untuk masa depan yang lebih baik.
6. Reaksi Masyarakat dan Lembaga Terkait
Masyarakat dan berbagai lembaga mulai merespons pemotongan anggaran ini dengan kecaman. Aktivis hak asasi manusia dan beberapa kelompok masyarakat sipil menilai bahwa pemerintah harus segera merevisi keputusan ini agar LPSK dapat terus memberikan perlindungan kepada saksi dan korban yang membutuhkan. Mereka menekankan bahwa negara harus bertanggung jawab atas masa depan penyintas dan tidak mengabaikan hak-hak mereka.
7. Apa yang Diharapkan Penyintas?
Para penyintas berharap agar pemerintah dapat lebih peka terhadap kebutuhan mereka. Mereka menginginkan agar bantuan yang diberikan tidak hanya bersifat simbolis, tetapi juga nyata. Penyintas dari Tragedi 65, Bom Bali, dan Tragedi Kanjuruhan berhak mendapatkan hak-hak mereka, termasuk perlindungan, pemulihan fisik dan mental, serta keadilan.
8. Tantangan di Masa Depan
Tanpa adanya perubahan dalam kebijakan anggaran dan pemotongan terhadap lembaga-lembaga seperti LPSK, tantangan besar akan dihadapi oleh para penyintas. Mereka akan semakin terisolasi dan sulit untuk mendapatkan akses ke sumber daya yang dapat membantu mereka pulih. Pemerintah perlu mempertimbangkan dengan serius kondisi ini agar tragedi-tragedi besar di masa lalu tidak hanya menjadi kenangan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa perlindungan kepada korban adalah bagian dari kewajiban negara.
Kesimpulan
Pemotongan anggaran LPSK memberikan dampak besar bagi para penyintas tragedi besar Indonesia. Tanpa perlindungan dan pemulihan yang layak, mereka merasa diabaikan oleh negara yang seharusnya bertanggung jawab atas nasib mereka. Pemerintah harus segera merespons kondisi ini dengan serius, karena mengabaikan hak-hak penyintas berarti mengabaikan keadilan yang seharusnya mereka terima.
Lebih Banyak
Kongres AS Bergerak: RUU Batasi Kekuasaan Perang Presiden Usai Operasi Venezuela
Isu pembatasan kekuasaan perang presiden kini menjadi fokus utama politik nasional di Amerika Serikat setelah Presiden Donald Trump memerintahkan operasi...
Perayaan Tahun Baru 2026 di Seluruh Dunia
Suasana Meriah di Seluruh Dunia Perayaan Tahun Baru 2026 berlangsung meriah di berbagai negara. Dari Sydney hingga Paris, Berlin, dan...
Gempa Bumi Magnitudo 7.0 Guncang Taiwan
Gempa Kuat Guncang Wilayah Timur Taiwan Sebuah Gempa Bumi Magnitudo 7.0 mengguncang wilayah Taiwan pada hari ini, memicu kepanikan warga...
Rusia Peringatkan Uni Eropa soal Risiko “Casus Belli”
Peringatan Rusia ke Uni Eropa Pejabat tinggi militer Rusia Peringatkan Uni Eropa terkait potensi penggunaan aset Rusia yang dibekukan sebagai...
Kapabilitas Pertahanan Asia Menguat di Tengah Rivalitas Baru
Kapabilitas pertahanan Asia terlihat meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Tren ini muncul melalui dua peristiwa penting: uji coba rudal anti-kapal...
KTT Investasi AS-Saudi: Bin Salman Perkuat Kerja Sama Ekonomi
Arab Saudi resmi menggelar KTT Investasi AS-Saudi di Washington pada 19 November 2025, bertepatan dengan kunjungan Pangeran Mohammed bin Salman....
